Pilih Edisi --
PIP Edisi Nov 2009 PIP Edisi Oct 2009 PIP Edisi Sep 2009 PIP Edisi Aug 2009 PIP Edisi Jul 2009 PIP Edisi Jun 2009 PIP Edisi May 2009 PIP Edisi Apr 2009 PIP Edisi Mar 2009 PIP Edisi Feb 2009 PIP Edisi Jan 2009 PIP Edisi Dec 2008 PIP Edisi Nov 2008 PIP Edisi Oct 2008 PIP Edisi Sep 2008 PIP Edisi Aug 2008 PIP Edisi Jul 2008 PIP Edisi Jun 2008 PIP Edisi May 2008 PIP Edisi Apr 2008 PIP Edisi Mar 2008 PIP Edisi Feb 2008 PIP Edisi Jan 2008 PIP Edisi Dec 2007 PIP Edisi Dec 2007 PIP Edisi Nov 2007 PIP Edisi Oct 2007 PIP Edisi Sep 2007 PIP Edisi Aug 2007 PIP Edisi Jul 2007 PIP Edisi Jun 2007 PIP Edisi May 2007 PIP Edisi Apr 2007 PIP Edisi Mar 2007 PIP Edisi Feb 2007 PIP Edisi Jan 2007 PIP Edisi Dec 2006 PIP Edisi Nov 2006 PIP Edisi Oct 2006 PIP Edisi Sep 2006 PIP Edisi Aug 2006 PIP Edisi Jul 2006 PIP Edisi Jun 2006 PIP Edisi May 2006 PIP Edisi Apr 2006 PIP Edisi Feb 2006
>> Ichsanuddin Noorsy, Pengamat politik dan ekonomi Sebatas Kebijakan Lipstik
Diangkatnya Syarief Hasan sebagai Menegkop dan UKM dalam Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, bagi Ichsanuddin Noorsy, tidak memberi harapan yang lebih baik bagi pengembangan koperasi dan Usaha Kecil Menegah (UKM) ke depan. Karena menurutnya, siapapun yang duduk di posisi itu, harus mengerti betul tentang koperasi dan UKM. Apalagi kabinet yang ada sekarang ini dianggap tidak memahami ekonomi konstitusi. ”Ingat, koperasi bagian dari satu sistem ekonomi konstitusi,” jelasnya.
Ada tiga hal penting yang harus bisa dijawab Menengkop dan UKM, yaitu sumberdaya, produksi dan distribusi. Jika bisa menjawab ketiga elemen tersebut, baru harapan akan perkembangan koperasi dan UKM bisa terwujud. Selama ini, kebijakan yang menyangkut koperasi dan UKM hanya sebatas lipstik yang terlihat manis di bibir, tapi lain kenyatannya. Akibatnya, di produksi pun ikutan lipstik, termasuk distribusinya yang kacau.
Lebih ekstrim lagi, Noorsy mengatakan bahwa koperasi dan UKM justru berjalan mundur, yang terdepan justru konsumsi, disusul distribusi, baru produksi. Padahal koperasi memiliki peran strategis tapi malah menjadi kekuatan yang diabaikan pemerintah. Dengan demikian, perlu adanya kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dan benar-benar membela keberadaan koperasi. Bukan sebaliknya, kebijakan yang dibuat justru malah mempecundangi koperasi.
Sebagai buktinya, saat terjadi devaluasi pada 1971, 1978, 1983, 1986, Gebrakan Sumarlin pada 1991 dan krisis ekonomi pada 1997-1998, penyelamatnya justru koperasi dan UKM. Malah kalau ingin penjelasan lebih rinci lagi, ada 96,1 persen total angkatan kerja diserap di sektor ini. Tapi dalam perjalanannya, hingga saat ini posisi koperasi masih tetap di tempatkan di pinggiran.
Apalagi kalau sudah dikaitkan dengan keberadaan usaha-usaha besar, mulai dari pertambangan hingga perkebunan. Sedikit sekali atau bahkan nyaris tidak ada koperasi yang diberi kesempatan untuk masuk mengelola sektor tersebut. ”Apakah di pertambangan ada koperasi yang ikut mengelola. Begitu juga di perkebunan, paling posisi mereka hanya sebatas pelengkap saja,” kata Noorsy.
Noorsy tidak hanya mengkritisi kehadiran Menegkop dan UKM yang baru, tapi dia juga berharap kepada koperasi dan UKM agar jangan mau dipecah-belah oleh mereka yang memiliki kepentingan ekonomi di negeri ini. ”Koperasi ada di antara para raksasa, jadi mereka harus cerdik,” katanya.
Tidak hanya sekadar berteori, selama ini Noorsy juga ikut turun tangan dengan membangun komunitas ekonomi di lingkungan kecil. Dengan demikian, peran yang dijalankan bukan sebatas retorika tapi juga diterapkan dalam kehidupan. ”Mudah-mudahan gerakan koperasi menyadari kekuatan besar yang mereka miliki,” katanya.
Upload Date 0
Article Counter 55,597
POLLING Polling tidak berhadiah 0 Responden Ditutup [ Lihat Semua Polling ]
>> SWAMITRA BERKAT LOAJANAN MAKIN BERSAING, MAKIN UNTUNG Dikepung sejumlah bank besar swasta dan pemerintah, Swamitra Berkat Loajanan justru makin eksis. Pihak manajemen bahkan sudah menyiapkan ekspansi usaha dengan membuka cabang baru di dua lokasi, Samarinda dan Tenggarong. Topic: Swamitra KOPERASI PERTANIAN Redaksi: Silakan hubungi Inkoptan, Jl.Bekasi Timur IV No.3 A, Jatinegara, Jakarta Timur, Telp. 021-8503735
Topic: Dari Pembaca MANISNYA BERBISNIS ALA FRANCHISE Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) pertumbuhannya terus meningkat. Akhir 2008 sesuai BPS mencatat 51 juta unit. Tak dipungkiri jumlah tersebut terus bertambah seiring makin kreatif dan inovatifnya masyarakat melakukan usaha yang beragam muncul sepanjang musim. Topic: Laporan Khusus PRESTASI KOAPGI MAKIN TINGGI Dibentuk dengan dana hanya Rp 6,1 juta, dalam waktu delapan tahun, koperasi milik awak pesawat Garuda Indonesia ini, melesat dengan aset Rp 161,72 miliar lebih. Kini Koapgi siap memanjakan karyawannya dengan pengadaan rumah.Topic: Kinerja MARI MEMBERI “Rahasia kemakmuran adalah kedermawanan, karena dengan membagi kepada orang lain, hal baik yang akan diberikan dalam kehidupan kita, bahkan berkelimpahan.”
-- J. Donald Walters, penulis dan pengajar asal Rumania, tinggal di India.Topic: Manajemen