Pilih Edisi --
PIP Edisi Nov 2009 PIP Edisi Oct 2009 PIP Edisi Sep 2009 PIP Edisi Aug 2009 PIP Edisi Jul 2009 PIP Edisi Jun 2009 PIP Edisi May 2009 PIP Edisi Apr 2009 PIP Edisi Mar 2009 PIP Edisi Feb 2009 PIP Edisi Jan 2009 PIP Edisi Dec 2008 PIP Edisi Nov 2008 PIP Edisi Oct 2008 PIP Edisi Sep 2008 PIP Edisi Aug 2008 PIP Edisi Jul 2008 PIP Edisi Jun 2008 PIP Edisi May 2008 PIP Edisi Apr 2008 PIP Edisi Mar 2008 PIP Edisi Feb 2008 PIP Edisi Jan 2008 PIP Edisi Dec 2007 PIP Edisi Dec 2007 PIP Edisi Nov 2007 PIP Edisi Oct 2007 PIP Edisi Sep 2007 PIP Edisi Aug 2007 PIP Edisi Jul 2007 PIP Edisi Jun 2007 PIP Edisi May 2007 PIP Edisi Apr 2007 PIP Edisi Mar 2007 PIP Edisi Feb 2007 PIP Edisi Jan 2007 PIP Edisi Dec 2006 PIP Edisi Nov 2006 PIP Edisi Oct 2006 PIP Edisi Sep 2006 PIP Edisi Aug 2006 PIP Edisi Jul 2006 PIP Edisi Jun 2006 PIP Edisi May 2006 PIP Edisi Apr 2006 PIP Edisi Feb 2006
Manisnya Berbisnis Ala Franchise
Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) pertumbuhannya terus meningkat. Akhir 2008 sesuai BPS mencatat 51 juta unit. Tak dipungkiri jumlah tersebut terus bertambah seiring makin kreatif dan inovatifnya masyarakat melakukan usaha yang beragam muncul sepanjang musim. Menjamurnya kedai atau gerobak teh seduh merupakan salah satu contoh pelaku usaha jeli melihat peluang. Orang awam memandang teh yang telah menjadi sajian rutin di setiap rumah tidak memiliki nilai tambah. Namun, bagi pelaku bisnis warisan minum teh secara turun-temurun oleh masyarakat merupakan peluang besar. Dari anak-anak hingga kakek-nenek telah mengenal teh sebagai minuman khas yang tidak membosankan. Dengan mengemas cara unik akan menarik minat untuk mencicipinya.
Kenyataannya analisis itu benar, produk inovasi yang mereka tawarkan mendapat sambutan luar biasa. Tak aneh, jika semula hanya satu, kini beragam merek bermunculan. Produsen teh tak mau membuang kesempatan dan memanfaatkan moment tersebut. Bahkan, bukan berasal dari lingkungan perusahaan teh, perusahaan lain pun ikut mengambil peluang tersebut dengan mendirikan usaha serupa.
Hasilnya, kreativitas yang mereka upayakan laris manis untuk di waralabakan/franchise. Pangsa pasarnya jelas, hampir setiap orang Indonesia hobi menyeruput teh, baik dalam keadaan panas, hangat maupun dingin. Apalagi waralaba yang ditawarkan tidak terlalu mahal, hanya berkisar Rp 4,5 – 10 juta, sehingga mengundang minat masyarakat untuk membelinya. Kini, hampir tidak ada ruang kosong di tempat-tempat keramaian lalu-lalang orang yang tidak terdapat kedai teh beragam. Ada teh poci, teh saring, teh tongtji dan gootee.
Mencermati perkembangannya, se-
lain menguntungkan pencipta maupun pembeli waralaba, karena untungnya meningkatkan setatus sosialnya. Fenomeni ini juga ikut mengurangi pengangguran, mengingat usaha ritel ini banyak melibatkan tenaga kerja.
Selain waralaba tersebut, banyak pula yang telah lama ditawarkan kepada masyarakat. Bukan cuma yang berjenis makanan dan minuman, juga bentuk lain semisal loundry, salon, bengkel, lembaga pendidikan atau jasa pengiriman barang. Kesimpulannya, waralaba dengan harga di bawah Rp 100 juta banyak peminatnya.
Hanya saja, agar masyarakat tidak menderita rugi karena kurang cermat memilih jenis waralaba. Tidak ada salahnya melakukan berbagai observasi mendetail. Sebab, tidak semua waralaba yang ditawarkan menguntungkan karena resikonya telah diminimalisir sedemikian rupa oleh pihak franchise (franchisor). Meski pemikiran demikian benar, tetapi tidak selalu benar dalam prakteknya. Hanya, resiko kegagalannya lebih kecil dibanding membuka usaha sendiri. Jika seorang memulai sebuah bisnis sendiri dengan metode “trial and eror“, kemungkinan gagalnya sangat besar. Apalagi tidak ada rekan atau saudara yang membimbingnya dalam usaha yang baru dirintisnya itu. Sementara kalau membeli waralaba, resiko kegagalan bisa diperkecil, karena pihak pewaralaba (franchisor) telah menyediakan dan mendukung investor (terwaralaba/ franchise), termasuk survey, metode marketing dan promosi, perizinan, bahan baku, manajemen, standar kerja/ SOP dan desain interiornya.
Demikian dijelaskan Amir Karamoy, Ketua Waralaba dan Lisensi Indonesia seperti dikutip Partisimon.com. Amir menambahkan, waralaba yang dari luar negeri memiliki kegagalan relatif kecil. Kesuksesan waralaba Indonesia hanya mencapai 60%, sedangkan asing, khususnya yang dari Amerika Serikat (AS) mencapai 90%. ”Antara waralaba lokal dengan asing memang terjadi perbedaan tingkat kegagalan yang sangat mencolok. Kegagalan waralaba lokal berkisar antara 50-60%, sedangkan asing hanya 2 - 3 persen saja,”ujar pemilik Konsultan AK & Patners ini.
Penyebabnya, bisa dari faktor franchisor atau franchise-nya (investor) atau akumulasi keduanya. Dari sisi franchisor, kadang bisnis yang ditawarkan belum terbukti menguntungkan, tapi sudah berani menawarkan konsepnya. Hal itu sering di iklankan di media massa dalam bentuk “waralaba”. Padahal jelas Amir Karamoy, belum tentu bisnisnya itu sudah dapat dikatagorikan sebagai “waralaba/franchise”, bisa jadi baru dalam bentuk “pola kemitraan/business opportunity (BO)” atau hanya sekedar penggunaan nama merek alias lisensi.
Sementara, menurut John Naisbit dalam buku berjudul Megatrends, pola waralaba merupakan konsep marketing paling sukses dalam sejarah umat manusia. Di negeri Paman Sam itu, setiap 8 menit lahir satu outlet waralaba. Fakta itu ada benarnya, sebab konsep itu kemudian merambah hingga ke Indonesia yang dalam 10 tahun terakhir ini telah bermunculan penawaran konsep tersebut kepada masyarakat (calon investor).
Dampaknya, semakin banyak orang tertarik untuk menamkan uangnya dengan membeli waralaba atau sekedar lisensi bisnis. Tak dipungkiri, berita-berita yang beredar menyebutkan banyak orang sukses karena membeli franchise.
Meski, kenyataanya tidak sedikit yang mengalami kerugian ditengah jalan. Bagi yang jeli, di koran atau majalah, sering terpasang iklan menjual semua peralatan waralaba dengan bermacam alasan. Logikanya, kalau bisnis itu menguntungkan tidak akan di jual tetapi bisa usaha franchise yang dibelinya “tidak laris manis” dan tidak mencapai target penjualan sehingga pemiliknya “nombok” melulu.
Contoh lain, tidak jarang ada gerai waralaba yang tutup bukan hanya pada bisnis makanan dan minuman tetapi bidang lain seperti salon, toko buku, laundry, ritel, hingga lembaga pendidikan, dari yang berskala besar hingga kecil, dari yang mampu bertahan dalam beberapa tahun hingga yang beroperasi hanya dalam hitungan bulan. Dari contoh-contoh tersebut telah menjadi bahan pertimbangan pelaku usaha. Mereka tidak cemas dan menyikapi hal tersebut merupakan salah satu kasus saja. Buktinya, tidak menyurutkan mereka melakukan inovasi dan kreativitas untuk menciptakan bisnis baru yang berpeluang diterima masyarakat.
Hasilnya, bisnis franchise ini tetap bermunculan. Dapaknya, meski guncangan krisis moneter yang berimbas
pada sendi-sendi perekonomian, UMKM kita tetap mampu menyiasatinya.
Bahkan, berkat krisis tersebut minimal telah mempengaruhi pola pikir masyarakat. Jika sebelumnya budaya mencari pekerjaan dominant. Namun, seiring pergeseran waktu, ketika lapangan pekerjaan menyempit dan banyak perusahaan pailit. Daya kreativitas itu bangkit dan mindset masyarakat berubah, dari pencari kerja menjadi menciptakan pekerjaan.
Faktanya, BPS pada 2008 telah mencatat jumlah pengusaha yang bergerak di sektor UMKM mencapai 51 juta unit. Demikian angka kemiskinan turun sekitar 2,4 persen atau tinggal 31,5 juta jiwa dari total penduduk Indonesia.
Jika menyimak angka tersebut, seandainya pemerintah konsen memberdayakannya, menumpas kemiskinan dan menanggulangi angkatan kerja bukan hal sulit. Bila terdapat UMKM yang secara usaha telah fiesible namun belum bankable, tinggal satu langkah lagi memolesnya, mereka menjadi ku-
at seperti yang kita harapkan. Jika ak-
ses modal ke perbankan sulit, tinggal
membuatkan resep ampuh untuk menanggulanginya. Jangan sebaliknya menelorkan kebijakan yang membonsai pertumbuhannya atau memberangus semangat usahanya. Tak keliru menempatkan lokasi yang layak bagi pelaku usaha mikro yang berjualan di tempat umum, ketimbang menggusur paksa. Meski berhasil membersihkan mereka dari pandangan mata, tetapi perut keluarganya makin perih karena dapurnya berhenti mengepul akibat periuknya jomplang akibat matinya mata pencaharian oleh petugas penertiban.
Upload Date 0
Article Counter 53,759
POLLING Polling tidak berhadiah 0 Responden Ditutup [ Lihat Semua Polling ]
”KAMI TIDAK MUNGKIN BEKERJA SENDIRI” Kegiatan pembinaan koperasi dan UKM oleh pemerintah dalam lima tahun ke depan, berada dalam kendali Syarief Hasan. Tentu banyak kalangan ingin mengetahui pemikiran dan pandangan Menteri Syarief Hasan, terutama menyangkut langkah yang akan dilakukannya di Kementerian Koperasi dan UKM. Berikut petikan wawancara wartawan PIP Slamet Wijaya dengan Syariefuddin Hasan, yang dilakukan dalam beberapa kali kesempatan.
Topic: Fokus PRESTASI KOAPGI MAKIN TINGGI Dibentuk dengan dana hanya Rp 6,1 juta, dalam waktu delapan tahun, koperasi milik awak pesawat Garuda Indonesia ini, melesat dengan aset Rp 161,72 miliar lebih. Kini Koapgi siap memanjakan karyawannya dengan pengadaan rumah.Topic: Kinerja ICA AP BANTU KOPERASI KORBAN GEMPA SUMBAR Pertengahan Oktober 2009 lalu, Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) baru saja menghadiri Sidang International Co-operatives Alliance Asia Pacific atau ICA AP di Beijing, China. Ketua Umum Adi Sasono, dan Pimpinan Harian Bidang Organisasi dan Kelembagaan Soeryo Bawono didaulat menghadirinya.Topic: Mancanegara >> DRS. FX SIMAN, KETUA INKOPDIT POLITISI OKE, PRAKTISI KOPERASI OYE FX Siman, begitu namanya disebut, se-
sungguhnya adalah seorang guru. Tapi
dibalik kesibukannya mengajar di sekolah, ia berhasil menempa diri sebagai po-
litisi, sekaligus praktisi koperasi.Topic: Kiprah BERAGAM PELUANG DI SEKTOR RIIL Judul Buku:
99 Bisnis
Modal Rp 10 Juta
Penyusun:
Indah Ratnaningsih
& Nurul Hidayati
Penerbit : Penebar Plus+
Tahun Terbit: 2009
Jumlah halaman: 356Topic: Rehal