Pilih Edisi --
PIP Edisi Nov 2009 PIP Edisi Oct 2009 PIP Edisi Sep 2009 PIP Edisi Aug 2009 PIP Edisi Jul 2009 PIP Edisi Jun 2009 PIP Edisi May 2009 PIP Edisi Apr 2009 PIP Edisi Mar 2009 PIP Edisi Feb 2009 PIP Edisi Jan 2009 PIP Edisi Dec 2008 PIP Edisi Nov 2008 PIP Edisi Oct 2008 PIP Edisi Sep 2008 PIP Edisi Aug 2008 PIP Edisi Jul 2008 PIP Edisi Jun 2008 PIP Edisi May 2008 PIP Edisi Apr 2008 PIP Edisi Mar 2008 PIP Edisi Feb 2008 PIP Edisi Jan 2008 PIP Edisi Dec 2007 PIP Edisi Dec 2007 PIP Edisi Nov 2007 PIP Edisi Oct 2007 PIP Edisi Sep 2007 PIP Edisi Aug 2007 PIP Edisi Jul 2007 PIP Edisi Jun 2007 PIP Edisi May 2007 PIP Edisi Apr 2007 PIP Edisi Mar 2007 PIP Edisi Feb 2007 PIP Edisi Jan 2007 PIP Edisi Dec 2006 PIP Edisi Nov 2006 PIP Edisi Oct 2006 PIP Edisi Sep 2006 PIP Edisi Aug 2006 PIP Edisi Jul 2006 PIP Edisi Jun 2006 PIP Edisi May 2006 PIP Edisi Apr 2006 PIP Edisi Feb 2006
Modal Terjangkau Untung Berlipat
Lokasi strategis menjadi faktor penentu larisnya usaha dagang dengan cara mangkal. Sekanjutnya kemasan dan cita rasa yang mampu menggugah lidah untuk ketagihan. Kemudian untuk menambah jumlah keuntungan harus berani ekspansi agar volume penjualannya meningkat. Bagi yang berhasil menentukan lokasi bisnis waralaba ini sangat menguntungkan. Apa yang dijanjikan dalam analisis usaha oleh penjual waralaba menjadi kenyataan. Misalnya, untuk waralaba teh sedu dengan modal yang ditawarkan berkisar antara Rp 4,5 – 10 juta dalam tiga bulan dapat kembali modal atau break event point (BEP). Sebab, dengan modal untuk paket A yang sekitar Rp 5 juta dan telah mendapatkan peralatan dan bahan baku. Setelah operasi dengan pengeluaran untuk biaya produksi dalam satu bulan Rp 2.939.500, untuk modal sekitar Rp 64.650 per hari, yakni untuk membeli teh 150 gram, gula 2kg, air isi ulang satu gallon, es batu 10kg dan gelas (cup) 70 cups dikalikan 30 hari sebesar Rp 1.939.500, ditambah Rp 500 ribu untuk sewa tempat dan Rp 500 untuk karyawan.
Sementara dengan penjualan sehari laku 70 cups saja akan memperoleh omset sebesar Rp 175 ribu per hari, dengan harga Rp 2.500 per cups. Maka akan terakumulasi omset dalam satu bulan Rp 5,250 juta. Setelah dipotong ongkos produksi sebesar Rp 2.939.500 maka keuntungan yang akan dikantongi pemilik Rp 2.310.500.
Jumlah tersebut masih mungkin bertambah sesuai naiknya omset penjualan. Apalagi jika pemilik mempunyai lebih dari satu outlet, otomatis profit yang diperoleh akan makin besar. Kenyataanya, sesuai penelusuran PIP, penjualan teh sedu itu mampu tembus jumlah minimal, bahkan lebih dua kali lipatnya tergantung ramai tidaknya kondisi kedai dari lalu-lalang orang.
Misalnya outlet yang mangkal dekat kampus Unas, Jakarta Selatan dalam satu hari mampu melayani 150 cups. Memang obyek pembeli sangat potensial dengan mahasiswa yang menuntut ilmu di lembaga pendidikan tersebut mencapai ribuan orang, maka dengan 150 orang yang menyeruput teh sedu dalam satu hari sangat mungkin.
Outlet yang berada di stasiun Bandung bahkan diaku Andi Kosasih penjaga jika dalam kondisi ramai, sehari mampu menghabiskan 200 cups. Namun rata-rata mampu menjual 100 cups sehari. “Kalau lagi laris bisa dua kali saya nyeduh tehnya Mas,” tutur pemuda yang baru lulus SMA ini.
Demikian depot yang mangkal di terminal Purwokerto, Jawa Tengah juga tak kalah ramai dibanding dengan yang di dua tempat tersebut. Meski Sunarti si penjaga mengaku jarang menembus angka 150 cups, tetapi selalu tercapai batas minimalnya. “Kecuali suasana ramai Mas, saya melayani pembeli lebih dari 100 cups, pernah juga menjual diatas 140 cups,” jelas gadis berkostum hijau muda itu.
Meski antara lokasi satu dengan lainnya berjauhan, juga mereknya berbeda di Unas Teh Poci, di Bandung Teh Saring dan di Purwokerto Teh Tongtji, tetapi soal harga yang dipatok sama, yakni Rp 2.500. Begitu pula pemiliknya juga berbeda, jika di Unas dan Purwokerto perorangan dan yang di stasiun Bandung adalah milik koperasi karyawan PT KA.
Tentu, mereka ini adalah yang menemukan lokasi atau tempat mangkal strategis. Bagi yang sepi juga banyak, semisal diceritakan Komar yang menjaga outlet milik kakaknya di depan salah satu minimarket di Pondok Ungu Permai, Bekasi Utara untuk mencapai limit minimal saja sulit. Beruntung pemuda asal Bangkalan, Madura ini kalau sore membantu kakaknya yang juga mempunyai warung sate sehingga meski tidak untung besar belum dikeluhkan.
Upload Date 0
Article Counter 55,573
POLLING Polling tidak berhadiah 0 Responden Ditutup [ Lihat Semua Polling ]
”KAMI TIDAK MUNGKIN BEKERJA SENDIRI” Kegiatan pembinaan koperasi dan UKM oleh pemerintah dalam lima tahun ke depan, berada dalam kendali Syarief Hasan. Tentu banyak kalangan ingin mengetahui pemikiran dan pandangan Menteri Syarief Hasan, terutama menyangkut langkah yang akan dilakukannya di Kementerian Koperasi dan UKM. Berikut petikan wawancara wartawan PIP Slamet Wijaya dengan Syariefuddin Hasan, yang dilakukan dalam beberapa kali kesempatan.
Topic: Fokus MEMBANGUN KEJAYAAN KOPERASI BANTEN Keberhasilan pembangunan koperasi di Banten, telah menghantarkan Gubernur Banten meraih penghargaan Satya Lencana Pembangunan, yang disematkan Menteri Koperasi dan UKM. Komitmen gubernur pada koperasi, memang terbukti besar.Topic: Daerah KPRI DEPAG KABUPATEN TANGERANG BANGKIT SETELAH BANGKRUT DUA KALI Berpredikat sebagai “Koperasi Berprestasi Tingkat Nasional”. Itulah kini gelar yang disandang oleh KPRI Depag Kabupaten Tangerang.Topic: Kinerja TAMBAH MODAL Redaksi: Anda bisa hubungi koperasi masyarakat yang ada di wilayah Karawang.
Topic: Dari Pembaca MENTERI BARU MASALAH LAMA Koperasi dan UKM, masih belum beranjak dari masalah lama. Pelaku ekonomi rakyat ini belum lepas dari belenggu yang menyulitkan langkah ke tingkat perkembangan lebih tinggi. Apakah Menegkop anyar kali ini mampu membereskannya?Topic: Fokus